Jumat, 12 Agustus 2016



Aku nyebelin enggak/. Terkaku sambil memainkan piaono. Tenggak tuh biasa aja.. nbeleina banget malah.loh kenapa begitu? . bodo amat. Jargon fajar adaal bodo’amat. Ia emang sih, aku akui itu. Dia duduk di pojok kanan. Menatap jendela. Diam-diam aku menyukainya. Diam-diam aku mencintainya. Sejak kapan cinta itu datang, tanpa disadari, aku memainkan nada-nada begitu saja tanpa memperhatikan harmonisasi musik adele-someone like you. Tidak ada yang berbeda, namun tetap sama.
            Koko diem sih? Ada apa?. Em...enggak apa2. Aku mau tanya. Tanya apa. Apa masa remaja itu dapat dikatakan normal apabila ia mencintai seseoranaku hanya dibercandqg? Aku terbelalak. Baru kali ini fajar bertanya soal itu. Em,, kurang lebih gitu sih. Kalo enggak gitu berarti kamu enggak normal donk.hahah. aku serius. Gimana kalo aku jatuh cinta sama kamu? Apa, sungguh, enggak kok Cuma bercanda. Huf ternyata, aku hanya di bercandaain. Trus, ngapain kalo kamu emang bercanda, kenapa enggak sama orang lain sana.hushhh...usirku. kamu kenapa sih, marah-marah enggak jelas gitu? Gitu aja marah loh.aneh. aku replay lagi jargon fajar. Bodo amat.
            Privat musik telah usai. Aku kembali merasa sendiri, kesepian. Fajatr kembali menjauh dariku. Aku tak tahu apa sebabnya. Sebab kejadian itu, ia selalu menghindar dari aku. Bahkan, ia tidak mau mengikuti les musik lagi. jujur, aku kesepian. Hanya sendiri. Semuanya sendiri. Semua ruangan yang di sini tiba-tiba berubbah menjadi pengap, menyesakkan dada. Aku, sedikitpun tak memperhatikan not-not yang ditulilis oleh bu dewi. Aku memamng begitu patah hati.
            Orang normal itu wajar.


https://draft.blogger.com/blogger.g?blogID=7014660359526425895#editor/target=post;postID=4779985883811840856